Laporan Rotan Sega ( Calamus Caesius )

Rotan Sega ( Calamus Caesius )

A.  Tujuan

Untuk mengetahui ciri-ciri morfologi dan aspek botani Tanaman Rotan Sega (Calamus caesius) di Hutan Konservasi Bukit Bangkirai.

B.  Dasar Teori

1. Organ Pokok pada Tumbuhan Tingkat Tinggi

a. Akar

Semua organ berpembuluh mempunyai akar.Akar merupakan bagian terkecil dari tumbuhan yang ada di dalam tanah. Akar merupakan tempat masuknya air dan  mineral dari dalam tanah menujuh keseluruh bagian tumbuhan. Akar juga berfungsi untuk menopang tubuh tumbuhan agar kokoh. Pada beberapa tumbuhan,akar juga menjadi tempat menyimpan cadangan makanan, misalnya pada ketela pohon.  Pertumbuhan akar di kontrol oleh aktifitas maristem apikal ujung akar yang berfungsi sebagai jaringan pelindung. Pada tumbuhan tingkat tinggi sistem perakaran dapat di bedakan menjadi dua, yaitu akar serabut dan akar tunggang. Akar berasal dari calon akar yang terdapat pada embrio atau lembaga dari biji. Calon akar yang tumbuh menjadi akar disebut akar primer, sedangkan pertumbuhan akar primer akibat aktifitas kambium membentuk akar sekunder.

b. Batang

Batang merupakan bagian tumbuhan yang berada di permukaan tanah. Batang berfungsi sebagai tempat duduk daun,sarana lintasan air,mineral,makanan antar bagian tumbuhan,yaitu antar akar ,batang dan daun . Tumbuhan yang berkayu umumnya berbatang keras, tebal dan panjang. Permukaan batang yang kuat , umumnya kasar, dan terdapat lenti sel pada tempat-tempat tertentu. Lenti sel berfungsi sebagai tempat keluar masuknya gas pada tumbuhan. Pada ujung batang yang sedang tumbuh, tepatnya di belakang titik tumbuh, terbentuk jaringan primer terdiri atas :

1)   Protoderma, merupakan bagian luaryang akan membentuk epidermis

2)   Prakambium, terletak di bagian tengah, sel-selnya lebih panjang, jaringan ini akan membentuk jaringan pembuluh xilem dan floem,serta kambium vasikuler

3)   Maristem dasar, yaitu jaringan dasar yang akan membentuk empular dan korteks.

Struktur primer batang terdiri atas:

1)   Epidermis, yaitu jaringan berbentuk sel-sel pipih yang berfungsi melindungi jaringan di dalamnya.

2)   Korteks, yaitu jaringan yabg terletakdi bawah epidermis yang tersusun dari sel-sel parengkima yang berbentuk bulat, berdinding tipis, dan bervakuola besar. Fungsi utamanya menyimpan cadangan makanan.

3)   Stele atau silinder pusat, yaitu bagian terdalam dari batang. Lapisan terluar dari silinder pusat di batasi oleh perisikel atau perikambium. Stele tersebut di susun oleh xilem, floem, kambium vaskular, dan empular.

c. Daun

Daun merupakan bagian tumbuhan yang biasanya berbentuk lembaran pipih, berwarna hijau. Daun tumbuhan duduk pada batang dengan pola teratur dan tertentuh. Daun biasanya memiliki umur tertentu, dan akan gugur pada umur tertentu. Daun berfungsi sebagai tempat pembuatan makanan bagi tumbuhan melaui proses fotosintesis.

Seperti halnya batang, dan akar, secara anatomi daun tersusun atas tiga sistem jaringan, yakni:

1)   Epidermis, yaitu daun yang mengandung sel-sel kipas dan stomata yang terdapat pada kedua permukaan atau di bawah permukaan. Di bawah epidermis biasanya terdapat hipodermis yang merupakan darivat dari epidermis. Epidermis atas pada daun biasanya di lapisi oleh lapisan kutikula sebagai penahan terjadinya penguapan yang terlalu besar.

2)   Jaringan dasar atau mesofil, yang terletak diantara kedua epidermis.

3)   Berkas pengangkut, terdapat di tulang daun dan mempunyai susunan seperti batang.

Daun yang lengkap mempunyai bagian-bagian berikut:

1)   Upih daun atau pelepah daun (vagina),

2)   Tangkai daun (petiolus),

3)    Helaian daun (lamina).

d. Bunga

Bunga merupakan alat perkembangbiakan pada tumbuhan kelompok angiospermae. Bunga disebut alat perkembangbiakan karena  di dalam bunga terdapat alat-alat reproduksi, seperti : benang sari, putik, dan kandung lembaga. Bunga merupakan hasil modifikasi dari daun. Bunga di bentuk oleh maristem khusus yang berkembang dari ujung pucuk vegetatif setelah di rangsang oleh faktor internal dan eksternal. Jadi, bunga hanya muncul pada saat tertentu saja.

2.    Tumbuhan Monokotil dan Dikotil

a. Tumbuhan Monokotil

Tumbuhan berkeping biji tunggal (atau monokotil) adalah salah satu dari dua kelompok besar tumbuhan berbunga yang bijinya tidak membelah karena hanya memiliki satu daun lembaga. Kelompok ini diakui sebagai takson dalam berbagai sistem klasifikasi tumbuhan dan mendapat berbagai nama, seperti Monocotyledoneae, Liliopsida, dan Liliidae.

Kelompok tumbuhan ini mencakup berbagai tumbuhan paling berguna dalam kehidupan manusia. Sebagai sumber pangan, sumber energi nabati, sumber bahan baku industri, perumahan, dekorasi, pakaian, media penulisan, zat pewarna, dan sebagainya

Contoh tumbuhan monokotil :

1)   suku anggrek-anggrekan

2)   suku padi-padian (Graminae)

3)   suku pinang-pinangan (Palmae)

4)   suku bawang-bawangan (alliaceae)

5)   suku pisang-pisangan (Musaceae)

Ciri pada tumbuhan monokotil berdasarkan ciri fisik pembeda yang dimiliki adalah :

1)   Bentuk Akar : Memiliki sistem akar serabut

2)   Bentuk sumsum atau pola tulang daun : Melengkung atau sejajar

3)   Kaliptrogen / tudung akar : Ada tudung akar / kaliptra

4)   Jumlah keping biji atau  kotiledon : satu buah keping biji saja

5)   Kandungan akar dan batang : Tidak terdapat kambium

6)   Jumlah kelopak bunga : Umumnya adalah kelipatan tiga

7)   Pelindung akar dan batang lembaga : Ditemukan batang lembaga / koleoptil dan akar lembaga /keleorhiza

8)   Pertumbuhan akar dan batang : Tidak bisa tumbuh berkembang menjadi membesar

b. Tumbuhan Dikotil

Tumbuhan berbiji belah atau tumbuhan berkeping biji dua adalah segolongan tumbuhan berbunga yang memiliki ciri khas yang sama dengan memiliki sepasang daun lembaga (kotiledon:daun yang terbentuk pada embrio) berbentuk sejak dalam tahap biji sehingga biji sebagian besar anggotanya bersifat mudah terbelah dua dan sistem Crouquistmengakui kelompok ini sebagai takson dan menamakannya kelas Magnoliopsida.

Nama ini dibentuk dengan menggantikan akhiran -aceae dalam nama Magnoliopsida dengan akhiran -opsida . Kelas Magnoliopsida dipakai sebagai nama takson bagi semua tumbuhan berbunga bukan monokotil. Magnoliopsida adalah nama yang dipakai untuk menggantikan nama yang dipakai sistem klasifikasi yang lebih lama, kelas Dicotyledoneae (kelas “tumbuhan berdaun lembaga dua” atau “tumbuhan dikotil”).

Contoh tumbuhan dikotil :

1)   Kacang tanah

2)   Mangga

3)   Rambutan

4)   Belimbing dll

Ciri pada tumbuhan dikotil berdasarkan ciri fisik pembeda yang dimiliki adalah :

Bentuk akar, Memiliki sistem akar tunggang

1)   Bentuk sumsum atau pola tulang daun, Menyirip atau menjari

2)   Kaliptrogen / tudung akar (Tidak terdapat ada tudung akar)

3)   Jumlah keping biji atau kotiledon. Ada dua buah keping biji

4)   Kandungan akar dan batang. Ada kambium

5)   Jumlah kelopak bunga, Biasanya kelipatan empat atau lima

6)   Pelindung akar dan batang lembaga, Tidak ada pelindung koleorhiza maupun koleoptil

7)   Pertumbuhan akar dan batang, Bisa tumbuh berkembang menjadi membesar

Struktur-struktur pada tumbuhan

1)   Struktur Anatomi Akar

Secara umum struktur anatomi akar tersusun atas jaringan epidermis, sistem jaringan dasar berupa korteks, endodermis, dan empulur; serta sistem berkas pembuluh. Pada akar sistem berkas pembuluh terdiri atas xilem dan floem yang tersusun berselang-seling. Struktur anatomi akar tumbuhan monokotil dan dikotil berbeda.

2)   Struktur Anatomi Batang

Secara umum batang tersusun atas epidermis yang berkutikula dan kadang terdapat stomata, sistem jaringan dasar berupa korteks dan empulur, dan sistem berkas pembuluh yang terdiri atas xilem dan floem. Xilem dan floem tersusun berbeda pada kedua kelas tumbuhan tersebut. Xilem dan floem tersusun melingkar pada tumbuhan dikotil dan tersebar pada tumbuhan monokotil.

3)   Struktur Anatomi Daun

Daun tumbuhan tersusun atas epidermis yang berkutikula dan terdapat stomata atau trikoma. Sistem jaringan dasar pada daun monokotil dan dikotil dapat dibedakan. Pada tumbuhan dikotil sistem jaringan dasar (mesofil) dapat dibedakan atas jaringan pagar dan bunga karang, tidak demikian halnya pada monokotil khususnya famili Graminae. Sistem berkas pembuluh terdiri atas xilem dan floem yang terdapat pada tulang daun

3.    Suku Pinang-pinangan (Palmae)

Suku (famili) Arecaceae atau suku pinang-pinangan (palem) adalah kelompok tumbuhan yang biasa disebut palma atau palem. Tumbuhan ini banyak dikenal dan mempunyai banyak jenis di Indonesia meskipun terkadang tidak sedikit yang bingung untuk membedakannya sehingga menyebutnya sebagai palem saja atau justru keliru dalam menyebutkan nama jenisnya. Secara umum suku Arecaceae mempunyai ciri-ciri:

  1. Batangnya tumbuh tegak ke atas dan jarang bercabang
  2. Batangnya beruas-ruas dan tidak memiliki kambium sejati
  3. Akarnya tumbuh dari pangkal batang dan berbentuk akar serabut
  4. Berdaun majemuk
  5. Tangkai daun memiliki pelepah daun yang membungkus batang.
  6. Bunga tersusun dalam karangan bunga (mayang)
  7. Buahnya ditutupi lapisan luar yang relatif tebal (biasa disebut sabut)
  8. Biji buah relatif cair pada saat masih muda dan semakin mengeras ketika tua.

Suku (famili) Arecaceae terdiri atas puluhan genus dan ratusan spesies (jenis). Jenis-jenis yang umumnya dapat ditemui di Indonesia antara lain Enau atau Aren (Arenga pinata); Gebang (Corypha utan); Kelapa (Cocos nucifera); Kelapa Sawit (Elaeis guineensis dan Elaeis oleifera); Nibung (Oncosperma tigillarium); Nipah (Nypa fruticans); Rotan (Calamus rottan); Salak (Salacca zalacca); Sagu atau Rumbia (Metroxylon sago); Siwalan atau Lontar (Borassus flabellifer).

4.    Rotan

Hutan merupakan karunia Tuhan Yang Maha Esa sebagai penyangga kehidupan, suatu ekosistem tempat hidupnya flora dan fauna sehingga perlu dikelola dengan baik sesuai dengan ketentuan dan peruntukannya, sehingga perlu dijaga dan dipertahankan kelestariannya.

Hutan secara umum lebih dikenal sebagai penghasil kayu dan non kayu jenisnya sangat beragam yang tersebar pada kawasan hutan di seluruh daearah di Indonesia. Akibat adanya praktek ilegal loging pemungutan dan pemanfaatan hasil hutan semakin meningkat dan makin tidak terkendali.  Dengan semakin berkurangnya hasil hutan berupa kayu, pemungutan hasil hutan mulai beralih pada beberapa hasil hutan non kayu yang salah satu diantaranya yaitu rotan.

Rotan merupakan hasil hutan non kayu yang mempunyai nilai ekonomis yang sangat tinggi dan dapat digunakan hampir disemua segi kehidupan manusia, tetapi lebih dikenal secara umum digunakan untuk mebeler. Rotan sebagai sumber devisa yang sangat besar bagi negara, karena Indonesia satu satunya negara terbesar penghasil rotan didunia, rotan sebagai bahan baku pabrik atau industri baik industri besar maupun industri kecil (home industri), sebagai sumber mata pencaharian dan atau lapangan pekerjaan serta meningkatkan tarap hidup dan perekonomian masyarakat sekitar hutan.

Rotan adalah sekelompok tumbuhan memanjat yang dalam dunia tumbuh-tumbuhan digolongkan kedalam anak kelas Monocotyledone, termasuk Famili/ Suku Palmae, dengan Marga Calamus, Daemonorops, Karthalsia, Caratolobus, Pectokomia Calospatha, Myrialepis, Plectocomiopsis, Pogonotium dan Retispatha. Jenis rotan di Asia Tenggara berkisar 516 jenis dan di Indonesia berkisar 316 jenis (Ir. Hadi S. Pasaribu, MSc.). Jenis rotan berdasarkan SNI digolongkan kedalam 2 golongan diameter yaitu diameter besar dan diameter kecil. Diameter besar yaitu Ø >18 cm dan diameter kecil yaitu : Ø < 18 cm.

Jenis rotan yang diameter besar antara lain : Manau (Calamus manna Miq), Tohiti (Calamus inops), Batang (Damonorops robustus,), Tarumpu (Calamus sp.), Semambu (Calamus scipionum), Lambang (Calamus sp), Wilatung (Daemonorops fissus Bl), Mantang (Calamus ornatus Bl), Buyung (Calamus optimus), Telang (Calamus leptostachys Becc), Lintung (Calamus paspalanthus Becc.) Bamboo (Calamus borneensis Becc), Kalapa (Daemonorops calaparius Bl), Getah (Daemonorops angustifolius Mart), Umbulu (Calamus simphisipus), Batu (Calamus subinermish.wendl.), Landak (Calamus bracthystacchys Becc), dll.

Sedangkan rotan yang digolongkan kedalam diameter kecil antara lain : Sega (Calamus caesius), Irit/Jahab (Calamus trachhycoleus), Jermasin (Calamus lejicoulis), Lilin/ cicicn (Calamus sp), Runti (Calamus sp.), Kooboo (Fresinetia javanica), Pulut Putih (Calamus sp), Pulut Hijau (Calamussp.), Pulut Merah (Calamus javvensis Var), Landak (Calamus brachystachys), Jernang (Calamus draco Bl), Gelang (Demonorops gemiculatus), Cacing (Calamus impar Bec.), Bungkus (Demonorops trichrous Miq), Gunung (Calamus exilis Griff), Sabut (Daemonorps sabut), Dahan (Calamus teysmani Miq), dll.

Rotan cepat tumbuh dan relatif mudah dipanen serta ditransprotasi. Ini dianggap membantu menjaga kelestarian hutan, karena orang lebih suka memanen rotan daripada kayu. Suatu batang rotan dapat mencapai panjang ratusan meter. Batang rotan mengeluarkan air jika ditebas dan dapat digunakan sebagai cara bertahan hidup di alam bebas. Badak jawa diketahui juga menjadikan rotan sebagai salah satu menunya. Rotan cepat tumbuh dan relatif mudah dipanen serta ditransprotasi. Ini dianggap membantu menjaga kelestarian hutan, karena orang lebih suka memanen rotan daripada kayu.

Beberapa rotan mengeluarkan getah (resin) dari tangkai bunganya. Getah ini berwarna merah dan dikenal di perdagangan sebagai dragon’s blood (“darah naga”). Resin ini dipakai untuk mewarnai biola atau sebagai meni.

C.     Alat dan Bahan

1. Alat

a. Alat Tulis

b. Buku Acuan Botani Tingkat Tinggi

c. Kamera Digital

d. Kantong Plastik Besar

e. Meteran

f. Pasak

g. Pisau / Cutter

h. Tali rapia 10 m

2.  Bahan

     Calamus sp.

 

D.      Prosedur Kerja

1. Ditentukan terlebih dahulu lokasi yang akan menjadi tempat pengamatan

2. Disiapkan alat dan bahan yang diperlukan
3. Diamati dan dicatat sifat-sifat (karakteristik) serta ciri-ciri dari specimen yang meliputi:

a. Perawakan tumbuhan (habitus); perdu, pohon, semak, atau terna.

b. Periodisitasnya; annual, biennial, pirenial.

c. Susunan akar; tunggang, serabut.

d. Sifat-sifat batang; cara-cara percabangan (monopodial, simpodial, dikotom), arah tumbuh batang (tegak, berbaring, merayap, memanjat, membelit dan sebagainya), permukaan batang serta alat-alat lain seprti duri, bulu, rambut, kelenjar-kelenjar, bergetah atau tidak dan sebagainya.

e. Sifat-sifat daun; tunggal atau majemuk (menjari, menyirip dan campuran), tata letak daun (berseling, tersebar, berkarang), bagian-bagian daun (daun lengkap atau tidak), bangun/bentuk daun, ukuran (panjang dan lebar daun), pangkal daun, tepi daun, ujung daun, urat daun, adanya rambut-rambut pada permukaan atas dan bawah daun, tekstur daun dan warna daun.

f. Sifat-sifat bunga; bunga tunggal atau majemuk (berbatas atau tidak berbatas), bagian-bagina bunga, bunga lengkap atau tidak, daun pelindung ,daun-daun pembalut, kelopak tambahan.

g. Sifat-sifat buah; sejati atau semu.

h. Sifat-sifat lain; kuncup, alat penbelit, alat-alat memanjat, duri dan sebagainya.

4. Diambil gambar hasil pengamatan yang meliputi; tumbuhan lengkap, akar, batang/ ranting, daun, bunga dan buah serta biji jika ada.

5. Dilakukan pendeterminasian terhadap setiap tumbuhan yang diamati dengan menggunakan buku flora atau buku penuntun Taksonomi Tumbuhan.

E.   Hasil Pengamatan

Kingdom          : Plantae (Tumbuhan)

Subkingdom     : Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)

Super Divisi     : Spermatophyta (Menghasilkan biji)

Divisi               : Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)

Kelas               : Liliopsida (Berkeping satu / monokotil)

Sub Kelas        : Arecidae

Ordo               : Arecales

Famili               : Arecaceae (suku pinang-pinangan)

Genus              : Calamus

Spesies            : Calamus caesius Blume.

F.   Pembahasan

Praktikum ini bertujuan untuk mengidentifikasi tumbuhan tingkat rendah yang terdapat di Hutan Konservasi Bukit Bangkirai Balikpapan yaitu Calamus caesius. Wirotan Sega Hu, dan Sesah adalah nama yang diberikan untuk rotan Taman yang tumbuh di derah Kalimantan, nama rotan ini kalau tumbuh di daerah lainnya adalah Rotan Sega ( Aceh), rotan Segeu (Gayo), rotan Sego ( Sumatera Barat), rotan Sega benar/Segabuah ( Malaya).

Ciri dari rotan adalah hidup berumpun, tumbuh dipinggir sungai/dataran rendah dan juga ditemui di pegunungan. Ruas batang nyata, warna batang hijau muda kekuning-kuningan, panjang ruas 25 – 40 cm diameter batang 1-2 cm merata sampai ujung, buku pada ruas melingkar rata dan berwarna hutam dimana ruas pada bagian bawah buku besar dan ruas pada bagian atas mengecil dan merata sampai keujung batang. Permukaan batang licin dan mengkilap. Pada rotan yang tiap panen batangnya/bekas pelepah sepanjang  ± 16 – 60 meter pada ujung batang kurang lebih 4 meter terdapat daun. Pada ujung batang terdapat pelepah daun berbentuk menonjol berbuku, pelepah daun berduri pada pinggir kiri dan kanan kira-kira 20 – 30 cm dari pelepah duri menghadap kebawah miring 45o, ujung pelepah terdapat sulur panjat dengan panjang kurang lebih 2 – 3 meter berfungsi sebagai alat panjat dengan duri berpasangan 4 – 5 berjarak 3 cm, naik ke ujung semakin rapat. Bentuk daun memanjang dengan panjang daun kurang lebih 20 – 50 cm, lebar daun 3 – 6 cm. Warna daun hijau, pada bagian bawah daun terdapat 4 tulang daun yang memiliki duri halus berjarak 2 – 3 cm. Ujung daun meruncing berbulu halus, makin ke ujung buluh makin rapat, pada sepanjang tepi daun berduri halus. Duri pada batang berfungsi sebagai alat pertahanan diri dari herbivora, sekaligus membantu pemanjatan, karena rotan tidak dilengkapi dengan sulur. Suatu batang rotan dapat mencapai panjang ratusan meter. Batang rotan mengeluarkan air jika ditebas dan dapat digunakan sebagai cara bertahan hidup di alam bebas.

Buahnya berbentuk lonjong, panjang mencapai 1,5 cm, kulit buahnya bersisik, berwarna hijau dan akan berubah menjadi coklat kekuning-kuningan bila sudah masak. Bunga rotan terbungkus seludang. Biasanya bunga jantan dan bunga betina berumah satu, tetapi ada juga yang berumah dua. Karena itu proses penyerbukan bunga dapat berlangsung dengan bantuan angin atau serangga penyerbuk.

Rotan merupakan tumbuhan memanjat yang gigih dan hampir dapat tumbuh di setiap daerah di Hutan Primer dan dihutan sekunder karena membutuhkan banyak cahaya dalam perkembangan tumbuhnya. Habitat rotan pada umumnya pada daerah yang tinggi, tumbuh normal pada daerah yang tidak terlalu basah dan tidak terlalu kering. Sedikit rotan yang mampu bertahan hidup pada daerah yang kering dan daerah yang tergenang air atau banjir berkepanjangan.

Pemanfaatan rotan terutama adalah sebagai bahan baku mebel, misalnya kursi, meja tamu, serta rak buku. Rotan memiliki beberapa keunggulan daripada kayu, seperti ringan, kuat, elastis / mudah dibentuk, serta murah. Kelemahan utama rotan adalah gampang terkena kutu bubuk “Pin Hole”. Batang rotan juga dapat dibuat sebagai tongkat penyangga berjalan dan senjata. Berbagai perguruan pencak silat mengajarkan cara bertarung menggunakan batang rotan. Di beberapa tempat di Asia Tenggara, rotan dipakai sebagai alat pemukul dalam hukuman cambuk rotan bagi pelaku tindakan kriminal tertentu. Beberapa rotan mengeluarkan getah (resin) dari tangkai bunganya. Getah ini berwarna merah dan dikenal di perdagangan sebagai dragon’s blood (“darah naga”). Resin ini dipakai untuk mewarnai biola atau sebagai meni. Masyarakat suku Dayak di Kalimantan Tengah memanfaatkan batang rotan muda sebagai komponen sayuran.

G.  Kesimpulan dan Saran

1. Kesimpulan

Dari pembahasan diatas dapat disimpulkan bahwa :

Calamus caesius merupakan salah satu tumbuhan tingkat tinggi yang terdapat di Hutan Konservasi Bukit Bangkirai Balikpapan. Rotan merupakan tumbuhan memanjat yang gigih dan hampir dapat tumbuh di setiap daerah di Hutan Primer dan dihutan sekunder karena membutuhkan banyak cahaya dalam perkembangan tumbuhnya. Habitat rotan pada umumnya pada daerah yang tinggi, tumbuh normal pada daerah yang tidak terlalu basah dan tidak terlalu kering. Sedikit rotan yang mampu bertahan hidup pada daerah yang kering dan daerah yang tergenang air atau banjir berkepanjangan. Batang rotan biasanya langsing dengan diameter 2-5cm, beruas-ruas panjang, tidak berongga, dan banyak yang dilindungi oleh duri-duri panjang, keras, dan tajam. Duri ini berfungsi sebagai alat pertahanan diri dari herbivora, sekaligus membantu pemanjatan, karena rotan tidak dilengkapi dengan sulur. Suatu batang rotan dapat mencapai panjang ratusan meter. Pemanfaatan rotan terutama adalah sebagai bahan baku mebel, misalnya kursi, meja tamu, serta rak buku. Berikut adalah klasifikasi dari Calamus caesius

Kingdom       : Plantae (Tumbuhan)

Subkingdom  : Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)

Super Divisi   : Spermatophyta (Menghasilkan biji)

Divisi             : Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)

Kelas             : Liliopsida (Berkeping satu / monokotil)

Sub Kelas      : Arecidae

Ordo             : Arecales

Famili            : Arecaceae (suku pinang-pinangan)

Genus            : Calamus

Spesies          : Calamus caesius Blume.

2.    Saran

Sebaiknya kita sebagai mahasiswa dan juga sebagai masyarakat dapat menjaga dan memelihara kelestarian hutan kita agar tumbuhan tingkat tinggi  yang tertetap terjaga. Sehingga kita dapat mempertahankan fungsi hutan sebagaimana mestinya.

 

Daftar Pustaka

Tjitrosoepomo, Gembong. 2005. Morfologi Tumbuhan. Yogyakarta: Gadjah Mada University.

http://balittro.litbang.deptan.go.id/

http://bbgborneo.blogspot.com/2009/01/definisi-rotan.html

http://downloads.ziddu.com/downloadfile/15211109/AnalisisPemasaranIndustriKayudanRotan.docx.html

http://id.wikipedia.org/wiki/Rotan

http://www.dephut.go.id/INFORMASI/INTAG/bpkh6/BPKHVI/Jenisrotan.html

http://www.dephut.go.id/informasi/mki/07%20III/Artikel,%20Rotan.htm

http://www.plantamor.com/index.php?plant=242

http://www.proseanet.org/florakita/browser.php?docsid=853

repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/25311/…/Chapter%20II.pdf

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s